Merekajuga menampilkan nyayian vokal group tentang pendidikan, pidato tentang hari pendidikan, tutur cerita rakyat 'kambulawang' dan juga lawak.. Murid kelas I, II dan Kelas III juga menampilkan karya seni berupa gambar yang dibuat dari bahan dasar biji-bijian dan beras, dan karya seni dari bahan sampah yang didaur ulang.. Baca juga: Mantan Wabup Manggarai Timur Diabadikan pada Nama Jalan di
TEMPOCO, Banyuwangi - Kopi asal Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk jenis arabika dan robusta, dinobatkan sebagai kopi terbaik Indonesia 2015.Kopi Manggarai menggeser peringkat kopi Jambi yang menyabet penghargaan tersebut tahun sebelumnya. Penetapan kopi Manggarai sebagai kopi terbaik Indonesia 2015 itu merupakan hasil kontes ketujuh kopi spesialti Indonesia yang
CeritaRisalianus Bocah Kelas IV di Manggarai Timur Rawat Ayah Bundanya yang Sakit Tak Berdaya Seorang siswa SD di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur merawat ayah dan ibunya yang sedang sakit
MANGGARAITIMUR, TELISIK.ID - Setelah vakum tujuh tahun akibat alasan teknis dan pandemi COVID-19, kompetisi sepak bola kasta tertinggi Bupati Cup di Kabupaten Manggarai Timur, NTT, kembali digelar. Kali ini perhelatan akbar tersebut akan digelar di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara pada Juli 2022 mendatang.
DongengDongeng Manggarai I Buku ini merupakan langkah awal untuk menerjemahkan dan menerbitkan kumpulan cerita rakyat Manggarai (Flores, NTT) yang telah dilakukan dengan susah payah dan bertahun-tahun oleh Pater Jilis A. Verheijen, SVD, seorang ahli bahasa asal Belanda, yang hampir seumur hidupnya mengabdikan diri untuk mempelajari bahasa Manggarai dan kebudayaannya.
TimOkezone, Jurnalis · Selasa 17 Mei 2022 07:07 WIB. Membangun akses air bersih untuk masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur. (Foto: ACT) SAAT musim kemarau, warga di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, sulit mendapatkan air bersih. Terutama di Kampung Asi dan Kampung Sigi, di mana setiap musim kemarau datang
. BORONG, - Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas sudah menetapkan Desa Mbengan desa wisata di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Penetapan itu disambut gembira oleh Kepala Desa Mbengan, Yohanes Tobi bersama warga masyarakat setempat."Pemerintah Desa Mbengan bersama masyarakat sedang menata dan mempromosikan keunikan-keunikan wisata budaya, alam, tradisi, atraksi budaya, dan cerita-cerita rakyat," kata dia kepada Rabu 19/10/2022. Desa Mbengan punya banyak wisata alam Yohanes melanjutkan bahwa ada banyak tempat wisata alam yang tersebar di kawasan Desa Mbengan. Beberapa di antaranya, Ngapan Keto tebing Keto dengan keunikan pemandangan alam untuk melihat Laut Sawu, Air Terjun Ndalo Werok, Goa Liang Kar, Air Terjun Piripipi, Air Terjun Par Tambang. Baca juga Mengenal Desa Mbengan di NTT yang Ditetapkan sebagai Desa WisataUntuk wisata budaya, ada atraksi Umbiro, Wai Doka, tarian Kelong, permainan tradisional Napa Tikin, Ghena Ajo, Dang Ajo, Paka Maka, dan berbagai ritual adat yang berkaitan dengan pertanian ladang. "Beberapa waktu lalu, turis dari Jerman sudah berwisata di obyek wisata Ngapan Keto," tutur Yohanes. Bahkan beberapa tahun lalu, sambung dia, rombongan turis dari Belgia bersama pemandu dari Manggarai Timur sudah mengunjungi desa ini dan menyaksikan atraksi budaya yang dipentaskan oleh masyarakat setempat. Ritual adat Ghan Woja di Desa Mbengan Sementara itu, Tua adat Suku Mukun di Desa Mbengan, Kornelius Ngamal Ramang 62 menjelaskan, tradisi sakral di Kampung Bungan yang masih dirawat dengan baik adalah tarian Keda Rawa saat dilangsungkan ritual adat Ghan Woja. Keda artinya injak tanah, menghentakkan kaki di tanah dan rawa artinya syair-syair mistis yang dilantunkan tua-tua adat di kampung tersebut. Baca juga Manggarai Timur NTT Punya Banyak Danau, Jadi Tempat Rekreasi Turis
ASAL MULANYA DANAU RANA MESE Oleh Efan boyllond ada zaman dahulu di kampung TeberManggarai Timur hiduplah sepasang suami istri bernama Kae Anu dan Ngkiong Molas Liho. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang merupakan warisan dari orang tua Kae Anu. Rumah tersebut sudah sangat tua dan banyak sekali tiang dan papannya yang sudah lapuk termakan usia. Pada suatu hari berkatalah Kae Anu kepada istrinya,”Enu…rumah ini sudah sangat tidak layak lagi untuk dihuni, alangkah lebih baik kalau kita membuat rumah yang baru lagi”. “Tetapi membuat rumah itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama, suamiku. Lebih baik kita tinggal di pondok saja, kamu bahkan tidak mempunyai keahlian dalam membuat rumah”Kata istrinya. “Ah, kamu tenang saja. Meskipun saya tidak memiliki keahlian dalam membuat rumah tetapi saya akan tetap berusaha mencobanya”. Akhirnya Kae Anu memutuskan untuk mencari pohon untuk dijadikan balok di hutan. Setelah menyiapkan bekal utuk semingu, berangkatlah kae Anu ke sebuah hutan yang di dalamnya banyak sekali terdapat pohon Pinis sekarang hutan tersebut telah menjadi sebuah kampung yang bernama kampung Pinis. Di sana Kae Anu mulai menebang kayu dan membuatnya menjadi balok. Sudah beberapa hari Kae Anu di hutan dan kayu baloknya sudah semakin banyak. Ngkiong molas liho,istrinya, sangat cemas dan takut kalau Kae Anu diserang oleh binatang buas di hutan.” Semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku”do’anya daam hati. Pada suatu siang ketika Kae Anu sedang menebang pohon, dia melihat seekor munggissejenis tikus hutan berlari ke arahnya dan bersembunyi di bawah ranting-ranting pohon yang sudah dipotongnya. Tidak lama setelah itu dia melihat lagi beberapa ekor musang datang dan mengendus-endus seolah-olah sedang mencari sesuatu, namun Kae Anu tidak mempedulikanya dan terus menebang pohon tersebut. Ketika sedang asyik menebang pohon, dia tersentak ketika ada empat orang yang secara tiba-tiba datang berlari ke arahnya. Orang-orang itu sama sekali tidak dikenalnya. “Maaf Tuan, apakah anda melihat ada Motang Babi Hutan yang baru saja lewat disini?” Kae Anu tidak menjawab namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tetapi Tuan, lihatlah! Anjing-anjing kami mengendus-endus disekitar sini. Pasti motangnya jugaberada disekitar tempat ini” Ketika mereka menyebut kata anjing dan menunjukan kearah beberapa ekor musang tersebut, tersadarlah Kae anu bahwa tenyata orang-orang yang berada dihadapannya bukanlah manusia seperti dirinya tetapi mereka adalah daratMahluk Halus dan musang-musang itu adalah anjing-anjing mereka. Kae Anu menjadi sangat takut. “Tuan, saya tidak melihat babi hutan yang lewat disini tetapi saya hanya melihat tikus kecil ini”Kata Kae anu sambil memungut tikus yang bersembunyi dibalik ranting-ranting pohon lalu memukulnya dengan sebilah kayu. Darat tersebut sangat terperanjat dan berterik kegirangan. “Ya ampun tuan, ini adalah babi hutan yang kami cari-cari dari tadi.”kata mereka sambil bersorak kegirangan. “Lihatlah! Betapa besarnya babi hutan ini”Kae Anu semakin tercengang-cengang. Tikus kecil ini mereka anggap sebagi babi hutan yang besar?.Benar-benar aneh,gumanya dalam hati. Kemudian keempat mahluk halus itu mengangkat tikus kecil tersebut namun tiba-tiba mereka menurunkanya kembali.” Aduh, babi hutan ini sangat berat… padahal kita ini berempat tetapi kita tidak mampu mengangkatnya”Kata salah seorang dari mereka sambil tersengal-sengal. Mereka berulangkali mencoba mengangkat tikus yang menurut mereka adalah babi hutan yang besar itu namun lagi-lagi dilepaskanya kembali. Kae anu memandang mereka sambil terheran-heran. Diangkatnya tikus kecil itu hanya dengan satu tangan lalu menyodorkan kepada merka. Keempat mahluk halus itu membelalakan matanya ketika Kae Anu dengan entengnya mengangkat tikus kecil itu. Mereka sangat tercengang-cengang. “Ya ampun…kuat benar tuan ini, hanya dengan satu tangan dia bisa mengangkat babi hutan yang sangat besar ini”Kata mereka seakan-akan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. “Apakah tuan itu memiliki kekuatan gaib?”Tanya mereka kepada Kae Anu. Kemudian Kae Anu menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada mereka dan apa tujuan dia datang ke hutan itu. Keempat darat tersebut berbalik menjadi sangat takut dan hendak melarikan diri namun dicegah oleh Kae Anu. “Tenanglah tuan-tuan, saya tidak akan mencelakai kalian. Saya akan menolong tuan-tuan utuk membawakan babi hutan ini ke kampung tuan”ujarnya kepada mereka. Keempat mahluk halus itu pun akhirnya menyetujui tawaran dari Kae Anu. “Terimaksih atas budi baik tuan”Kata Mereka dengan penuh rasa hormat dan kemudian menunjukan jalan menuju kampung dimana mereka tinggal. “tenanglah tuan, tidak jauh dari sini ada jalan raya yang menuju kampung kami”Kata mereka. Ternyata jalan raya yang mereka maksudkan adalah sebuah sungai sekarang diberi nama Wae Dingin. Sesampainya di kampung mereka, kae Anu semakin tercengang-cengang. Ternyata kampung mereka adalah sebuah danau kecil bernama Rana Nekes, dan yang lebih anehnya lagi, rumah yang mereka tempati hanyalah sepotong helungbuluh/ sejenis bambu kecil yang mengapung di atas danau. Disana banyak sekali helung yang mengapung dan semuanya adalah rumah para warga mahluk halus rana Nekes. Keempat mahluk halus tersebut langsung mengajak Kae anu menuju rumah gendang. Disana sudah menunggu tua-tua adat serta segenap warga kampung dan mereka menyambut Kae Anu dengan senang hati. Namun Kae Anu menolak untuk masuk karena dia tahu bahwa rumah tersebut akan tenggelam apabila dia menginjaknya. “Tuan, biarkan saya tetap di luar karena saya takut rumah ini akan tenggelam apbila kaki saya menyentuhnya”Katanya kepada mereka. “Ah, tuan ini ada-ada saja…Jangan begitu, Nak…Mari siahkan masuk. Rumah ini sangatlah kokoh”Kata ketua Adat. Meskipun Kae Anu hanya menyentuh sedikit dengan ibu jari kakinya di ujung buluh atau helung tersebut, rumah para mahluk halus tersebut bergoncang sehingga membuat para warga yang berada di dalamnya berteriak ketakutan. Akhirnya mereka membiarkan Kae Anu tetap duduk di luar. Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan ketua adat para mahluk halus tersebut, Kae Anu mengetahui bahwa dalam rumah adat tesebut ada pertemuan para warga. Mereka berencana ntuk berperang melawan kampung tetangga yaitu rana Hembok yang ingin menguasai wilayah mereka. “Bantulah kami tuan, saya tidak ingin warga kampung ini menjadi budak-budak dari warga rana Hembok.”Pinta Ketua Adat tersebut kepada kae Anu.”Tolong selamatkan kami tuan”. “Baiklah…saya akan ikut berperang melawan mereka”Kata Kae anu. Hari menjelag sore, Kae Anu memohon pamit kepada para mahluk halus untuk kembali pulang ke rumahnya yaitu di Teber. Mereka memberikan kae Anu daging tikus yang bagi mereka adalah babi hutan namun ditolak oleh Kae Anu. Akhirnya sebagai balas jasa, mereka membawa balok-balok milik kae Anu ke Teber. Anehnya balok besar yang menurut Kae Anu sangatlah berat, tetapi bagi mereka itu sangatlah ringan bahkan masing-masing dari mereka membawa sepuluh balok di bahunya. Hari berganti hari dan tibalah saatnya bagu kae Anu untuk ikut berperang melawan Rana Hembok. Kae anu menyiapkan peralatan perang seperti Nggilingtameng, tombak dan parang yang sudah diasah sehingga sangat tajam. Setelah perelengkapn perang sudah disiapkan, berangkatah kae Anu ke Rana nekes. Bunyi gong dan gendang dari rana hembok mulai terdengar dan pasukan perangnya sudah bersiap siaga menunggu bunyi gong dan gendang dari Rana Nekes. Sementara itu, pasukan rana Nekes yang jumlahnya sangat sedikit itu menunggu kae Anu dengan perasaan cemas dan takut kalau kae Anu sendiri tidak jadi datang. Ketika Kae Anu tiba di Rana Nekes, semua darat Rana Nekes melompat kegirangan. Kae Anu menyuruh mereka berkumpul. Tetapi darat-darat tersebut sangat heran tatkala melihat kae Anu tidak membawa perlengkapan perang seperti yang mereka punya. “Dimana peralatan perangmu tuan?”Tanya salah seorang dari mereka. “Ini tuan”jawab kae Anu.”pokoknya kalian tenang saja”. Kae anu sendiri sangat heran karena darat-darat tersebut tak satupun yang membawa parang atau tombak tetapi ditangan mereka masing-masing menggenggam belut dan ikan. “Tunggu dulu!”Seru Kae Anu. “Biasaya kalau berperang, kaum darat menggunakan apa sebagai alat perangnya?”Tanya Kae Anu Kepada Mereka. “Tombak dan Parang”Jawab mereka serempak sambil menunjukan belut dan ikan. Mendengar hal tersebut mengertilah Kae Anu bahwa belut dan ikan bagi para mahluk halus adalah tombak dan parang. Kemudian berkatalah Kae Anu kepada mereka“Biar aku saja yang berperang melawan mereka dan kalian sendiri harus pergi menjauh dari tempat ini”. “Tetapi tuan, jumlah mereka sangat banyak dan peralatan perang mereka juga sangat banyak”Kata mereka. “Tenanglah…kita pasti menang”Kata Kae Anu. “segera bunyikan gong dan gendang serta menjauhlah dari sini” Ketika gong dan gendang mulai dibunyikan, serempak pasukan Rana Hembok melemparkan belut dan ikan kearah Kae Anu. Dengan mudah Kae Anu memotong-motong belut dan ikan yang mereka lempar dan mengumpulkannya menjadi satu tumpukan besar. Setelah ikan dan belut yang mereka lempar habis, darat rana Nekes bersorak kegirangan karena mereka telah menang perang tanpa ada satu pun diantara mereka yang mati. Sesuai kesepakatanya maka rana Hembok harus tunduk kepada rana Nekes dan pada hari itu juga air dari rana hembok berpindah ke rana Nekes dan menjadi sebuah danau yang sangat besar dan luas. “Karena wilayah kalian sudah semakin luas dan besar maka saya menamakan kampung kalian yaitu Rana Mese”Kata kae Anu kepada mereka. Mereka semua sangat senang dan setuju dengan nama yang diberikan oleh kae Anu kepada kampung mereka sehingga sampai sekarang danu tersebut dikenal dengan nama danau Rana Mese. “Kami tidak dapat membalas budi baik tuan”Kata raja rana Mese kepada Kae Anu. “Akan tetapi izinkan kami membantu tuan untuk membangun kampung tuan menjadi lebih luas seperti kerajaan kami sekarang ini”. Kae Anu menyetujui tawaran dari Raja Rana Mese. Kemudian Raja Rana Mese memerintahkan semua rakyatnya untuk pergi ke Teber dan membangun compang serta menyusun pagar menggunakan batu-batuan dari wae laku dan wae leras. Pagar batu tersebut sudah hampir selesai dibuat dalam tempo satu malam ketika anjing piaraan Kae Anu datang dari kebun dan menyalak serta menggonggong para mahluk halus tersebut. Karena takut dengan anjing, para mahluk halus tersebut berlari kembali ke Rana Hembok. Sampai sekarang pagar dari batu serta compang yang dibangun oleh darat tersebut masih ada di pelataran rumah gendang desa compang Teber,Manggarai Timur. created
BORONG, - Panitia Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara, menggelar lomba tutur cerita rakyat Manggarai Timur dari tingkat sekolah dasar/MI, sekolah Menengah Pertama/ MTs sampai tingkat SMA/MA dan perlombaan dalam rangka Peringatan Hari pendidikan Nasional dimulai dari tingkat gugus, kecamatan, sampai tingkat ini dijelaskan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Selamat Fransiskus kepada Selasa 1/5/2012 di menjelaskan, perlombaan tutur cerita rakyat merupakan yang pertama kali dilakukan demi mempertahankan cerita rakyat yang diwariskan leluhur di wilayah Kabupaten Manggarai lomba tutur cerita rakyat Manggarai Timur, Lanjut Fransiskus, lomba mata pelajaran juga digelar, lomba pidato bahasa inggris, lomba olahraga sepakbola, bola volley, sepaktakraw, permainan catur dan kegiatan perlombaan ini digelar dari tingkat SD-SMA/SMK di enam kecamatan di Kabupaten Manggarai lanjut, Fransiskus menambahkan, peringatan Hardiknas tingkat Kabupaten Manggarai Timur dipadukan dengan Yubilium Gereja Katolik di Keuskupan peringatan Hardiknas, lanjut, Fransiskus, akan dilaksanakan di Lapangan Bolakaki, belakang Terminal Borong, Rabu 2/4/2012 jam Waktu Indonesia Bagian peringatan itu akan digelar atraksi tarian khas Manggarai Timur dari anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini PAUD, SD, SMP dan SMK. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
– Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak asing lagi. Dia adalah salah satu pejuang yang menentang penjajahan Belanda atas tanah Manggarai-Flores, Nusa Tenggara Timur NTT pada awal abad ke-20. Sebagai bagian dari peringatan Hari Pahlawan yang dirayakan setiap 10 November, mengulas kisah perjuangan tokoh kelahiran Kampung Beokina, Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara itu. Kisah ini berdasarkan penuturan Wily Grasias, salah satu keluarga Motang Rua kepada Kisah perlawanan Motang Rua terhadap Belanda tak akan pernah terjadi bila pemerintah Kolonial Belanda tak pernah mendirikan pemerintahan sipil-militer di tanah Manggarai pada awal abad ke-20. Pasukan Belanda tiba di Manggarai pada 1908. Mereka berlayar dari Ende dan mendarat di Borong. Kedatangan Belanda di kota kecil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai Timur ini, tidak mendapat perlawanan yang berarti. Memang ada sedikit gejolak antara utusan Belanda dari suku Ende dengan masyarakat setempat. Namun hal ini tidak sampai menimbulkan masalah yang berarti. Dari Borong, Belanda kemudian melanjutkan perjalanan melalui pantai Laut Sawu menuju Todo, salah satu pusat kerjaaan yang terletak di pesisir selatan Manggarai. Belanda ingin mendirikan pusat Pemerintahan Sipil – Militer di Todo. Namun, karena topografi Todo yang berbukit-bukit, Belanda pun mencari tempat lain yang lebih cocok. Sejumlah tempat pun dipilih yaitu Malawatar Lembor, Cancar dan Puni Ruteng. Dalam rencana, Belanda ingin meresmikan pemerintahan administratif daerah jajahan Manggarai pada 31 Juli 1909 bertepatan dengan Hari Raya Kerajaan Belanda. Dari berbagai alternatif tempat yang dijadikan pusat pemerintahan itu, akhirnya, Puni Ruteng yang dipilih. Belanda pun mulai membangun rumah-rumah dan perkantoran. Namun, bukan Belanda sendiri yang membangun fasilitas pemerintahan itu, melainkan rakyat Manggarai. Belanda memerintahkan rakyat Manggarai membawa alang-alang untuk atap dan bahan bangunan lainnya. “Perlakuan semena-mena ini tidak diterima oleh Motang Rua, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala kampung Beokina,”cerita Wily Grasias. Motang Rua lalu mengkonsolidasi kekuatan. Sejumlah orang diajaknya untuk melakukan perlawanan, seperti Sesa Ame Bembang, Padang Ame Naga, Naga Ame Demong, Lapa Ame Sampu, Angko, Rumbang, Tengga Ame Gerong, Sadu Ame Mpaung meninggal di pembuangan Sawa Lunto, Nompang Ame Tilek, dan Ulur. Kekuatan dari sjeumlah kedaluan juga dihimpun seperti dari Kedaluan Lelak ada Paci Ame Rami, Nggarang Rombeng Rejeng, dan Dareng Ame Darung. Dari Kedaluan Ndoso ada Pakar Ame Jaga, Kedaluan Ndehes ada Raja Ame Kasang Ngampang Leok, Kedaluan Ruteng ada Nggorong Carep, Tanggu, Kelang Labe dan Wakul. Dia juga mengajak adik dan kakanya sendiri yaitu Ranggung Lalong Elor, Parang Ame Panggung, Nggelong, Parung Jalagalu, Lancur Lalong Pongkor, Latu Lando Rata, Tangur, Nicik, Nggangga, Anggang Ame Geong, Nancung Laki Rani, Tagung, Dorok, Corok, Rede, Seneng, Talo, Hasa, dan Andor Jagu. Kekuatan rakyat pun dikerahkan untuk mendirikan Benteng Kuwu serta memboikot rakyat lainnya yang berasal dari arah wilayah Lelak, Ndoso, Kolang dan Rahong agar tidak menghantar bahan bangunan serta makanan untuk kepentingan Belanda di Ruteng. Alang-alang, ijuk,dan balok dipotong-potong baru kemudian dikirim ke Ruteng. Atas perlakuan itu, maka Belanda menyuruh kurir khusus bernama Japa Ame Iba. Sesampai di Wae Kang, Japa Ame Iba memukul seorang rakyat yang bernama Unduk, pengantar alang-alang. Karena peristiwa pemukulan itu, maka Motang Rua membunuh utusan khusus itu. Serdadu Belanda pun gusar. Belanda kemudian memanggil Dalu Pasa, Sesa Ame Bemban ke Puni Ruteng pada 31 Juli 1909. Melaui Dalu Pasa ini, Belanda memerintahkan agar Motang Rua menghadap Belanda. Alih-alih menghadap, Motang Rua, malah menantang. “Kami tidak akan takluk kepada Belanda, sampai kami mati, dan tanah ini, tidak relah kami serahkan kepada orang nggera kulit putih.” Kurang lebih seperti itulah tantang yang diberikan Motang Rua saat itu….bersambung PDB/Floresa Selanjutnya Bersambung ke Motang Rua Diserang Belanda Dengan Peralatan Modern 2
cerita rakyat manggarai timur